Jam digital di meja samping tempat tidur berkedip 02.00. Di dalam bungalow kayu mewah di sebuah resor terpencil di El Nido, Palawan, malam terasa begitu sunyi. Dari kejauhan, ombak Laut Sulu menghantam tebing kapur, suaranya berat dan berirama, seperti napas panjang laut yang tak pernah tidur.
Aku membelakanginya, berpura-pura terlelap. Namun mataku terbuka lebar, perih karena berhari-hari kurang tidur. Di sampingku, kasur empuk sedikit turun lalu kembali ke bentuk semula. Seprai berdesir pelan.
Suamiku—Adrian—duduk.
Ia turun dari tempat tidur dengan hati-hati, telapak kakinya menyentuh lantai kayu tanpa suara. Cahaya bulan yang menembus tirai tipis memanjangkan bayangannya di dinding, kurus dan asing, seperti sosok yang tidak kukenal lagi.
Ia mengambil pakaian yang sudah disiapkan di kursi rotan, masuk ke kamar mandi untuk berganti, lalu membuka pintu bungalow perlahan.
Klik.
Bunyi kunci itu lembut—tetapi terasa seperti palu yang menghantam dadaku.
Ini malam kelima belas.
Kami telah menikah tiga tahun. Perjalanan satu bulan ke Palawan ini adalah hadiah dari perusahaanku setelah menyelesaikan proyek besar. Adrian, seorang desainer grafis lepas, ikut untuk “mencari inspirasi” dan, katanya, “menghidupkan kembali cinta kami.”
Di minggu pertama, semuanya sempurna. Sarapan menghadap laguna biru kehijauan, naik perahu kecil di antara tebing karst, matahari terbenam yang membuatku merasa beruntung memiliki suami setampan dan setenang dia.
Namun sejak malam ketiga, sesuatu berubah.
Adrian selalu kelelahan di siang hari. Di jamuan malam resor, ia sering menguap, matanya cekung, tangannya gemetar saat memegang segelas anggur. Ketika kutanya, ia hanya tersenyum tipis.
“Tempat tidur asing,” katanya. “Lagipula, aku sering begadang menggambar. Laut di sini paling indah saat malam.”
Aku percaya—sampai suatu malam aku menyadari iPad-nya tak pernah tersentuh.
Setiap malam, tepat pukul dua, ia menghilang. Dan selalu kembali sekitar pukul lima tiga puluh, mandi cepat, lalu menyelinap ke tempat tidur seolah tidak pernah pergi.

Yang lebih menggangguku adalah baunya.
Meskipun ia mandi dengan sabun hotel beraroma kelapa dan kayu tropis, di lehernya masih tertinggal aroma tajam—asin air laut, amis ikan segar… dan sesuatu yang mengingatkanku pada darah.
Aku tidak tahan lagi.
Kecemburuan dan ketakutan memaksaku mencari kebenaran, bahkan jika kebenaran itu berarti akhir dari pernikahan kami.
Pengejaran dalam Gelap
Malam keenam belas.
Pukul 02.15, Adrian pergi.
Begitu bayangannya menghilang di antara pohon palem, aku bangkit. Aku mengenakan celana jins hitam, jaket tipis, dan sepatu kets. Jika ia memang berkhianat, aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Aku mengikutinya dari kejauhan hingga ke area parkir resor. Adrian menyalakan sepeda motor tua yang ia sewa sehari sebelumnya—katanya untuk menjelajah pulau.
Begitu ia melaju, aku berlari ke gerbang dan memanggil taksi yang berjaga.
“Kuya, tolong ikuti motor itu,” kataku terburu-buru. “Jangan sampai hilang. Aku akan bayar lebih.”
Sopir itu menatapku lewat kaca spion, seolah sudah memahami segalanya.
“Masalah suami, ya?” katanya pelan. “Pegang erat.”
Motor itu tidak menuju kawasan wisata yang terang. Adrian justru mengarah ke jalan sempit menuju pelabuhan nelayan di Coron, tempat lampu-lampu redup dan bau laut menyengat.
Angin malam menerobos jendela mobil. Dadaku terasa sesak.
Apa yang dilakukannya di pelabuhan nelayan pada pukul tiga pagi?
Ketika kami tiba, suasananya kasar dan hidup—mesin perahu menderu, para nelayan berteriak, ikan dilempar ke lantai beton yang basah. Bau amis yang tajam memenuhi udara.
Aku membayar taksi dan turun.
Di sanalah, di bawah lampu kuning yang berkedip, aku melihat Adrian…
…aku melihat Adrian.
Ia berdiri di tepi dermaga, kausnya digulung sampai siku, celana basah hingga lutut. Di sekelilingnya, para nelayan bergerak cepat seperti bayangan—menarik jaring, menimbang ikan, berteriak dalam bahasa Tagalog yang patah-patah tak kupahami. Di bawah lampu kuning yang berkelip, wajah suamiku tampak berbeda: tegang, fokus, dan… dipenuhi sesuatu yang menyerupai kesedihan mendalam.
Di depannya, terbaring sesuatu yang membuat kakiku hampir roboh.
Seekor penyu laut raksasa.
Cangkangnya retak di satu sisi, darah gelap mengalir ke lantai beton, bercampur air laut. Napasnya berat, naik-turun dengan bunyi serak yang mengiris telinga. Salah satu siripnya terluka parah, terlilit tali pancing dan kawat.
Aku menutup mulutku agar tidak menjerit.
Adrian berlutut di samping penyu itu. Tangannya—tangan yang selama ini kugenggam setiap malam—kini berlumuran darah. Dengan hati-hati, ia memotong kawat dari sirip penyu menggunakan pisau kecil. Seorang nelayan tua menyerahkan kain dan botol cairan antiseptik.
“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Adrian dalam bahasa Inggris yang tegas. “Jika tidak segera dibawa ke pusat rehabilitasi, dia tidak akan bertahan sampai pagi.”
Nelayan itu mengangguk. “Kau yakin mau melakukannya lagi, Adrian? Pemeriksaan semakin ketat.”
“Aku tahu risikonya,” jawab suamiku pelan. “Tapi aku tidak bisa berhenti.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Melakukannya… lagi?”
Aku melangkah maju tanpa kusadari. Kerikil di bawah sepatuku berbunyi. Adrian menoleh.
Matanya membelalak.
“—Maya?”
Suaranya pecah.
Segalanya runtuh dalam satu detik. Semua dugaan tentang perselingkuhan, kebohongan, kehidupan ganda—bertabrakan dengan kenyataan berdarah di hadapanku.
“Apa ini?” tanyaku, suaraku gemetar. “Apa yang kau lakukan setiap malam, Adrian?”
Ia berdiri perlahan, seolah takut gerakan kasar akan mematahkan sesuatu yang rapuh di antara kami. Ia menoleh ke penyu itu, lalu kembali padaku.
“Aku ingin memberitahumu,” katanya lirih. “Tapi aku takut.”
Taksi, laut, para nelayan—semuanya terasa jauh ketika ia mulai bercerita.
Bertahun-tahun lalu, sebelum kami menikah, Adrian pernah mengikuti proyek desain untuk sebuah LSM konservasi laut. Di situlah ia pertama kali melihat penyu mati terdampar, perutnya penuh plastik, siripnya terpotong jaring ilegal. Gambar-gambar itu menghantuinya, bahkan setelah proyek selesai.
“Setiap kali aku menutup mata,” katanya, “aku melihat mereka.”
Di Palawan, ia mengetahui secara diam-diam bahwa masih ada jaringan nelayan yang menangkap atau melukai penyu—bukan untuk dijual, tapi sebagai ‘tangkapan sampingan’ yang sering dibiarkan mati. Beberapa nelayan lokal yang masih peduli mencoba menyelamatkan yang bisa diselamatkan, di tengah ancaman denda dan penjara.
“Aku membantu mereka,” lanjut Adrian. “Malam hari. Mengantar yang terluka ke pusat rehabilitasi rahasia di pulau kecil. Membersihkan luka, menandai lokasi jaring berbahaya. Aku pulang menjelang subuh supaya tidak ada yang curiga.”
Air mata mengalir di pipinya—aku jarang, hampir tak pernah, melihatnya menangis.
“Aku tahu baunya menjijikkan,” katanya dengan suara patah. “Darah, ikan, laut. Aku tahu aku tampak seperti menyembunyikan sesuatu yang buruk. Tapi Maya… ini satu-satunya cara aku merasa masih menjadi manusia.”
Aku menatap penyu itu lagi. Dadanya naik-turun dengan susah payah.
Dan tiba-tiba aku mengerti.
Rasa curiga yang menggerogotiku selama lima belas malam berubah menjadi sesuatu yang lain—rasa malu, dan rasa hormat yang begitu dalam hingga dadaku terasa sakit.
“Aku pikir…” suaraku nyaris tak keluar. “Aku pikir kau meninggalkanku. Atau berselingkuh.”
Adrian menggeleng keras. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu, tangannya yang berdarah terangkat di udara.
“Aku tidak akan pernah melakukan itu,” katanya. “Tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini tanpa menyeretmu ke dalam bahaya.”
Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. Lalu, sebelum sempat kupikirkan, aku melepas jaket tipisku dan berlutut di samping penyu.
“Apa yang bisa kulakukan?” tanyaku.
Adrian terdiam, lalu tersenyum—senyum kecil, lelah, dan penuh kelegaan.
“Pegang kepalanya,” katanya. “Bicaralah padanya. Mereka lebih tenang jika mendengar suara manusia.”
Malam itu, kami bekerja bersama sampai fajar. Penyu itu akhirnya diangkat ke perahu kecil, dibawa menuju pusat rehabilitasi saat langit mulai memucat. Ketika matahari terbit, laut berubah menjadi emas, seolah dunia memberi kami kesempatan kedua.
Di bungalow, beberapa jam kemudian, kami duduk berdampingan dalam keheningan. Tubuh kami lelah, tetapi hati kami terasa lebih jujur daripada sebelumnya.
“Aku seharusnya mempercayaimu,” kataku pelan.
“Aku seharusnya membiarkanmu memilih untuk percaya,” jawabnya.
Liburan kami di Palawan berakhir lebih cepat dari rencana. Namun kami pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berat dan lebih indah daripada oleh-oleh: sebuah rahasia yang kini kami pikul bersama.
Dan setiap kali aku terbangun di malam hari, mendengar laut dalam ingatanku, aku tak lagi bertanya ke mana suamiku pergi.
Aku tahu—ia pergi untuk menyelamatkan kehidupan. Dan, tanpa kusadari, ia juga telah menyelamatkan pernikahan kami.
